BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar, khususnya dalam pendidikan, bukanlah sekedar transmisi ilmu pengetahuan sebagai fakta. Tetapi lebih dari itu, belajar adalah mengolah daya penalaran peserta didik sebagai bekal dasar bagi setiap warga Negara yang bertanggug jawab. Teori belajar mengatakan kepada kita bahwa proses belajar tidak terjadi dalam ruang kosong. Data ilmu pengetahuan hanya dapat diserap dalam kaitannya dengan dunia nyata, terutama bagi peserta didik muda di bangku pendidikan dasar.
Di lingkungan sekolah, peserta didik merupakan unsur inti kegiatan pendidikan, karena itu jika tidak ada peserta didik, tentunya tidak akan ada kegiatan pendidikan. Lebih-lebih di era persaingan antar lembaga pendidikan yang begitu ketat seperti sekarang, sekolah harus berjuang secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan peserta didik. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang mati karena kehabisan peserta didik. Bahkan ada ketua yayasan pendidikan yang megatakan bahwa mencari peserta didik jauh lebih sulit daripada mencari guru baru. Dikatakannya untuk mandapatkan guru baru cukup membuka lamaran, sehari sudah banyak yang datang. Sedangkan untuk mencari peserta didik, belum tentu dengan mengedarkan brosur dan memasang sepanduk peserta didik akan datang. Hal ini menggambarkan bahwa dalam kegiatan pendidikan di era persaingan ini, peserta didik merupakan unsur utama yang dimenej dan dihargai martabatnya tak jauh berbeda dengan pembeli/konsumen dalam dunia usaha.
Manajermen peserta didik merupakan suatu usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik itu masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Dalam hal ini yang diatur secara langsung oleh pihak sekolah adalah segi-segi lain yang berkaitan dengan peserta didik secara tidak langsung. Pengaturan terhadap segi-segi lain selain peserta dimaksudkan untuk memberikan layanan yang sebaik mungkin kepada peserta didik.
Tujuan umum manajemen peserta didik adalah megatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini dilakukan agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
Suatu sekolah terus mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi yang dimiliki oleh peserta didik. Sekolah bisa memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi tersebut. Sedangkan pengertian ekstrakurikuler adalah kegiatan pelajaran yang diselenggarakan di luar jam pelajaran biasa. Kegiatan ini dilaksanakan pagi hari bagi sekolah-sekolah yang masuk pagi, dan dilaksanakan pagi hari bagi sekolah-sekolah yang masuk sore. Ekstrakurikuler dimaksudkan untuk mengembangkan salah satu bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa. Misalnya saja olahraga, kesenian, dan berbagai macam ketrampilan serta kepramukaan.
1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan, fokus permasalahan dalam rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian program ekstrakurikuler ?
2. Apa tujuan dan ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler ?
3. Berapa jenis kegiatan ekstrakurikuler ?
4. Berapa prinsip – prinsip program ekstrakurikuler ?
5. Apa pengertian partisipasi ?
6. Apa manfaat partisipasi ?
7. Ada berapa tingkatan partisipasi ?
8. Apa saja hal – hal yang mempengaruhi tumbuhnya partisipasi siswa dalam kegiatan
ekstrakurikuler ?
ekstrakurikuler ?
9. Ada berapa bentuk partisipasi siswa dalam kegiata ekstrakurikuler ?
10. Apa pembinaan kegiatan ekstrakurikuler ?
C. Tujuan
Mengacu kepada rumusan masalah, makalah ini adalah:
- Untuk mengetahui program ekstrakurikuler
- Untuk mengetahui tujuan dan ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler
- Untuk mengetahui jenis kegiatan ekstrakurikuler
- Untuk mengetahui prinsip – prinsip program ekstrakurikuler.
- Untuk mengetahui pengertian partisipasi.
- Untuk mengetahui manfaat partisipasi.
- Untuk mengetahui tingkatan partisipasi.
- Untuk mengetahui hal – hal yang mempengaruhi tumbuhnya partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler.
- Untuk mengetahui bentuk partisipasi siswa dalam kegiata ekstrakurikuler.
- Untuk mengetahui pembinaan kegiatan ekstrakurikuler.
D. Manfaat
Hasil makalah ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bahwa kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah merupakan kegiatan yang bisa menumbuhkembangkan potensi serta menyalurkan bakat dan minat peserta didik. Karena pada ekstrakurikuler tersebut banyak ketrampilan-ketrampilan yang diajarkan, sehingga sangat berguna bagi perkembangan serta potensi yang dimiliki peserta didik.
2
BAB II
PEMBAHASAN
PENYELENGGARAAN KEGIATAN EKSTRAKULIKULER SEBAGAI PROGRAM LAYANAN KHUSUS DALAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH
Dalam bagian ini akan memuat deskripsi tentang :
(1) Kegiatan ekstrakulikuler.
(2) Pembinaan kegiatan ekstrakulikuler.
(3) Partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler.
(4) Tersedianya dana ekstrakurikuler.
(5) Tersedianya sarana ekstrakurikuler.
(6) Keberadaan jadwal ekstrakurikuler.
A. Program Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk mengembangkan salah satu bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa, misalnya olahraga, kesenian, berbagai macam keterampilan dan kepramukaan diselenggarakan di sekolah di luar jam pelajaran biasa.
Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler antara satu sekolah dan sekolah yang lain bisa saling berbeda. Variasinya sangat ditentukan oleh kemampuan guru, siswa dan kemampuan sekolah. (Oteng Sutisna, 1983: 57).
a. Pengertian Program Ekstrakurikuler
Menurut Suharsimi AK, yang dimaksud dengan program ialah sederetan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (1988: 1). Farida Yusuf mendeskripsikan program sebagai kegiatan yang direncanakan. Jadi program merupakan kegiatan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan (1988: 123) adalah kegiatan pelajaran yang diselenggarakan di luar jam pelajaran biasa. Kegiatan ini dilaksanakan pada sore hari bagi sekolah – sekolah yang masuk pagi dan dilaksanakan pagi hari bagi yang masuk sore hari. Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk mengembangkan salah satu bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa misalnya olahraga, kesenian, berbagai macam keterampilan dan kepramukaan.
Menurut Suharsimi AK, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan, di luar struktur program yang pada umumnya merupakan kegiatan pilihan. (1988: 57)
Sedangkan defenisi kegiatan ekstrakurikuler menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan adalah :
Kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah
atau di luar sekolah atau di luar sekolah agar lebih memperkaya dan memperluas
wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata
pelajaran dalam kurikulum. (Kurikulum SMK 1984, Depdikbud: 6).
atau di luar sekolah atau di luar sekolah agar lebih memperkaya dan memperluas
wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata
pelajaran dalam kurikulum. (Kurikulum SMK 1984, Depdikbud: 6).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan di luar struktur program dilaksanakan di luar jam pelajaran biasa agar memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan siswa.
3
b. Tujuan dan Ruang lingkup Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan seperangkat pengalaman belajar memiliki nilai – nilai manfaat bagi pembentukan kepribadian siswa. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejujuruan adalah (1987: 9):
(1) Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa beraspek
kognitif, efektif, dan psikomor.
kognitif, efektif, dan psikomor.
(2) Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju
pembinaan manusia seutuhnya yang posistif.
pembinaan manusia seutuhnya yang posistif.
(3) Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan
mata pelajaran lainnya.
mata pelajaran lainnya.
Lebih lanjut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan menegaskan bahwa ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler harus berpangkal pada kegiatan yang dapat mendukung program intrakurikuler dan program kokurikuler (1987: 12)
Jadi ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler adalah berupa kegiatan – kegiatan yang dapat menunjang dan dapat mendukung program intrakurikuler yaitu mengembangkan pengetahuan dan kemampuan penalaran siswa, keterampilan melalui hobi dan minatnya serta pengembangan sikap yang ada pada program intrakurikuler dan program kokurikuler.
c. Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler
Menurut Amir Daien (1988: 24) kegiatan ekstrakurikuler dibagi menjadi dua jenis, yaitu bersifat rutin dan bersifat periodik. Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat rutin adalah bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan secara terus menerus, seperti: latihan bola voly, latihan sepak bola dan sebagainya, sedangkan kegiatan yang dilaksanakan pada waktu – waktu tertentu saja, seperti lintas alam, kemping, pertandingan olahraga dan sebagainya.
Banyak macam dan jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah – sekolah dewasa ini. Mungkin tidak ada yang sama dalam jenis maupun pengembangannya. Beberapa macam kegiatan ekstrakurikuler menurut Oteng Sutisna (185: 56) antara lain:
(1) Organisasi murid seluruh sekolah
(2) Organisasi kelas dan organisasi tingkat – tingkat kelas.
(2) Organisasi kelas dan organisasi tingkat – tingkat kelas.
(3) Kesenian; tari – tarian, band, karawitan, vokal group.
(4) Klub – klub hobby: fotografi, jurnalistik
(5) Pidato dan drama.
(6) Klub – klub yang berpusat pada mata pelajaran (klub IPA, klub IPS, dan seterusnya).
(7) Publikasi sekolah (koran sekolah, buku tahunan sekolah dan sebagainya).
(8) Atletik dan olahraga.
(9) Organisasi – organisasi yang disponsori secara kerjasama (pramuka dan seterusnya).
Lebih lanjut dikemukakan oleh Oteng Sutisna bahwa banyak klub dan organisasi yang bersifat ekstrakurikuler tetapi langsung berkaitan dengan mata pelajaran di kelas. Beberapa diantaranya adalah seni musik/karawitan, drama, olahraga, publikasi dan klub – klub yang berpusat pada mata pelajaran. Klub – klub ini biasanya mempunyai seorang penasihat seorang guru yang bertanggung jawab tentang mata pelajaran serupa.
Ada klub – klub dan organisasi yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran seperti klub – klub piknik, pramuka dan lain – lain. Biasanya semua klub dan organisasi itu mempunyai penasehat dan program kegiatan yang disetujui oleh kepala sekolah.
4
Menurut Hadari Nawawi (1985: 177-178) jenis – jenis kegiatan ekstrakurikuler yaitu:
(1) Pramuka sekolah.
(2) Olahraga dan kesenian.
(3) Kebersihan dan keamanan sekolah.
(4) Tabungan Pelajar dan Pramuka (Tabelpram).
(5) Majalah sekolah.
(6) Warung/kantin sekolah.
(7) Usaha kesehatan sekolah.
Selanjutnya menurut Depsikbud (1987: 27) kegiatan ekstrakurikuler dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
(a) Kegiatan yang bersifat sesaat, misalnya: karyawisata, bakti sosial, dan
(b) Jenis kegiatan yang bersifat kelanjutan, misalnya pramuka, PMR dan sebagainya.
Kemudian secara umum jenis kegiatan ekstrakurikuler disebutkan di bawah ini:
(1) Lomba Karya Ilmu Pengetahuan Remaja (LKIPR).
(2) Pramuka.
(3) PMR/UKS.
(4) Koperasi sekolah.
(5) Olahraga prestasi.
(6) Kesenian tradisional/modern.
(7) Cinta alam dan lingkungan hidup.
(8) Peringatan hari – hari besar.
(9) Jurnalistik
(10) PKS
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jenis – jenis kegiatan ekstrakurikuler dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
(1) Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat atau berkelanjutan, yaitu jenis kegiatan
ekstrakurikuler yang dilaksanakan seacara terus – menerus selama satu periode tertentu.
Untuk menyelesaikan satu program kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan waktu –
waktu tertentu saja.
ekstrakurikuler yang dilaksanakan seacara terus – menerus selama satu periode tertentu.
Untuk menyelesaikan satu program kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan waktu –
waktu tertentu saja.
(2) Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat periodik atau sesaat, yaitu kegiatan
ekstrakurikuler yang dilaksanakan waktu – waktu tertentu saja.
ekstrakurikuler yang dilaksanakan waktu – waktu tertentu saja.
d. Prinsip – prinsip Program Ekstrakurikuler
Dengan berpedoman kepada tujuan dan maksud kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat ditetapkan prinsip – prinsip program ekstrakurikuler. Menurut Oteng Sutisna prinsip program ekstrakurikuler adalah (1985: 58):
1. Semua murid, guru, dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha
meningkatkan program.
meningkatkan program.
2. Kerjasama dalam tim adalah fundamental.
3. Pembatasan – pembatasan untuk partisipasi hendaknya dihindarkan.
4. Prosesnya adalah lebih penting daripada hasil.
5. Program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang dapat memenuhi kebutuhan dan
minat semua siswa.
minat semua siswa.
6. Program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah.
7. Program harus dinilai berdasarkan sumbangannya kepada nilai – nilai pendidikan di
sekolah dan efisiensi pelaksanaannya.
sekolah dan efisiensi pelaksanaannya.
5
8. Kegiatan ini hendaknya menyediakan sumber – sumber motivasi yang kaya bagi
pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan sumber
motivasi yang kaya bagi kegiatan murid.
pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan sumber
motivasi yang kaya bagi kegiatan murid.
9. Kegiatan ekstrakurikuler ini hendaknya dipandang sebagai integral dari keseluruhan
program pendidikan di sekolah, tidak sekedar tambahan atau sebagai kegiatan yang
berdiri sendiri.
program pendidikan di sekolah, tidak sekedar tambahan atau sebagai kegiatan yang
berdiri sendiri.
Dalam usaha membina dan mengembangkan program ekstrakurikuler hendaknya memperhatikan hal – hal sebagai berikut (Depdikbud: 1987: 7):
1. Materi kegiatan yang dapat memberikan pengayaan bagi siswa.
2. Sejauh mana mungkin tidak terlalu membebani siswa.
3. Memanfaatkan potensi alam lingkungan.
4. Memanfaatkan kegiatan – kegiatan industri dan dunia usaha.
Adapun langkah – langkah pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler adalah (Depdikbud, 1987: 58):
1. Kegiatan ekstrakurikuler yang diberikan kepada siswa secara perorangan atau kelompok
ditetapkan oleh sekolah berdasarkan minat siswa, tersedianya fasilitas yang diperlukan
serta adanya guru atau petugas untuk itu, bilamana kegiatan tersebut memerlukannya.
ditetapkan oleh sekolah berdasarkan minat siswa, tersedianya fasilitas yang diperlukan
serta adanya guru atau petugas untuk itu, bilamana kegiatan tersebut memerlukannya.
2. Kegiatan – kegiatan yang direncanakan untuk diberikan kepada siswa hendaknya
diperhatikan keselamatannya dan kemampuan siswa serta kondisi sosial budaya setempat.
diperhatikan keselamatannya dan kemampuan siswa serta kondisi sosial budaya setempat.
Salah satu ciri yang membedakan kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan OSIS adalah dalam hal pegnilaian. Apabila suatu kegiatan di sekolah dinyatakan sebagai kegiatan ekstrakurikuler maka peserta kegiatan tersebut berhak atas nilai B, C, K yang dinyatakan dalam rapor. Sedangkan peserta kegiatan OSIS tidak memperoleh nilai tersebut.
e. Sumbangan Kegiatan Ekstrakurikuler
Millier, Mayer dan Pattrick, seperti yang dikutip oleh Percy E. Burrup dalam bukunya Modern High School Administration menunjukkan berbagai macam fungsi kegiatan ekstrakurikuler. Mereka menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi siswa, bagi pengembangan kurikulum dan bagi masyarakat. Secara terinci mereka menyebutkan (1962: 123) :
Contibution to student :
1. To provide opportunities for the pursuit of established interestand the development of new
interest.
interest.
2. To educate for citizenship through experiences and insight that stress leadhership,
fellowship, cooperation and independent action.
fellowship, cooperation and independent action.
3. To develop school spirit and morale.
4. To provide oppotunities for satisfying the gragoriuos urge of children and youth.
5. To encourage moral and spiritual development.
6. To strengthen the mental and physical healt of student.
7. To widen student contacts.
8. To provide opportunities for student to exercise their creative capacities more fully.
Contribution to curriculum improvement :
1. To suplement or enrich classroom experiences.
2. To esplore new learning experiences with my ultimately be incorperated into the
curriculum.
curriculum.
3. To provide additional opportunity for individual and group guidance.
4. To motivate classroom instruction.
6
Contribution to community:
1. To promote better school and community relations.
2. To encourage greater community interst in and support of the school.
B. Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
a. Pengertian partisipasi
Partisipasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “partisipation”yang berarti pengambilan bagian atau pengikutsertaan (John F. Echols, 1988: 419).
Pengertian partisipasi menurut Moelyarto Tjokrowinoto didefenisikan sebagai berikut:
Partisipasi adalah penyertaan mental dan emosi seseorang didalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk mengembangkan daya pikir dan perasaan mereka bagi tercapainya tujuan – tujuan, bersama bertanggung jawab terhadap tujuan tersebut. (1974: 37).
Menurut Keith Davis partisipasi didefenisikan sebagai berikut:
Pariticipation is defined as a mental and emotional involed at a person in a group
situation which encourager then contribut to group goal and share responsibility in
them. (1985: 185).
situation which encourager then contribut to group goal and share responsibility in
them. (1985: 185).
Partisipasi dimaksudkan sebagai keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab didalamnya.
Dalam defenisi ini kunci pemikirannya adalah keterlibatan mental dan emosi.
Pendapat lain tentang partisipasi dikemukakan oleh The Liang Gie, yaitu partisipasi meliputi :
(a) Satu aktivitas untuk membangkitkan perasaan diikutsertakan dalam oraganisasi,
(b) Ikutsertanya bawahan dalam kegiatan organisasi. (1968: 168).
Adapun konsep partisipasi menurut Ensiklopedi pendidikan adalah sebagai berikut :
Sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokratis dimana orang diikutsertakan dalam perencanaan serta pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi lebih baik dalam bidang – bidang fisik maupun bidang mental seta penentuan kebijaksanaan. (Poerbawakatja RS, 1982: 251).
Dari beberapa pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi serta pisik anggota dalam memberikan inisiatif terhagdap mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat diketahui bahwa dalam berpartisipasi terdapat unsur – unsur sebagai berikut:
1. Keterlibatan anggota dalam segala kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi.
2. Kemauan anggota untuk berinisiatif dan berkreasi dalam kegiatan – kegiatan yang ggg
dilancarkan oleh organisasi.
dilancarkan oleh organisasi.
Adapun sifat dari partisipasi tersebut adalah:
(a) Adanya kesadaran dari para anggota kelompok,
(b) Tidak adanya unsur paksaan,
(c) Anggota merasa ikut memiliki.
Dalam penelitian ini partisipasi yang dimaksud adalah partisipasi siswa yaitu keikutsertaan dan keterlibatan dalam kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah dalam hal ini kegiatan ekstrakurikuler.
7
Partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler sangat penting bagi pengembangan program ekstrakurikuler yang dibuat oleh sekolah. Kepala sekolah sebagai administrator sekolah agar dapat menilai secara periodik tentang kemanfaatan program bagi siswa serta perubahan dan perbaikan program kegiatan murid tersebut.
Adapun prasyarat – prasyarat sebagai kondisi pendahuluan agar tercapainya partisipasi oleh Pariata Westra disebutkan:
1. Tersedianya waktu yang cukup untuk mengadakan partisipasi.
2. Pembiyaan hendaknya tidak melebihi nilai – nilai hasil yang diperoleh.
3. Pelaksanaan partisipasi haruslah memandang penting serta urgen terhadap kelompok
kerja.
kerja.
4. Peserta partisipasi haruslah mempunyai kemampuan – kemampuan tertentu agar efektif
untuk dipartisipasikan.
untuk dipartisipasikan.
5. Pelaku partisipasi haruslah berhubungan agar saling tukar ide.
6. Tidak ada pihak – pihak yang merasa terancam dengan adanya partisipasi itu.
7. Partisipasi agar efektif jika didasari atas asas – asas adanya kebebasan kerja. (1977: 16).
Sedangkan prasyarat meningkatkan partisipasi adalah melalui penanaman kesadaran yaitu:
1) Rasa senasib sepenanggungan, ketergantungan dan keterkaitan.
2) Keterlibatan anggota dengan tujuan yang jelas agar meningkatkan ketetapan hati,
kemauan keras dan sikap tahan uji.
kemauan keras dan sikap tahan uji.
3) gKemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
4) Adanya prakarsa. (Subandiyah, 1990: 15).
b. Manfaat Partisipasi
Keith Davis mengemukakan manfaat prinsipil dari partisipasi yaitu:
1. Lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar.
2. Dapat digunakan kemampuan berfikir kreatif dari para anggotanya.
3. Dapat mengendalikan nilai – nilai martabat manusia, motivasi serta membangun
kepentingan bersama.
kepentingan bersama.
4. Lebih mendorong orang untuk bertanggung jawab.
5. Lebih memungkinkan untuk mengikuti perubahan – perubahan. (1985:186).
Lebih jauh Heidjrachman Ranupandojo mengemukakan bahwa dengan dijalankannya partisipasi akan bisa diperoleh beberapa manfaat seperti bisa dibuatnya keputusan yang lebih baik (karena banyaknya sumbangan pikiran), adanya penerimaan yang lebih besar terhadap perintah yang diberikan dan adanya perasaan diperlukan (1986).
Senada dengan pendapat di atas Burt, K. Sachlan and Roger memberikan pendapatnya bahwa manfaat dari partisipasi yaitu:
1. Lebih banyak komunikasi dua arah.
2. Lebih banyak bawahan mempengaruhi keputusan.
3. Manager dan partisipan kurang bersikap agresif.
4. Potensi untuk memberikan sumbangan yang berarti dan poditif, diakui dalam derajat lebih
tinggi. (1988: 85).
tinggi. (1988: 85).
Dari pendapat tersebut di atas tentang manfaat partisipasi dapatlah penulis simpulkan bahwa dengan adanya partisipasi akan memberikan manfaat yang penting bagi keberhasilan tujuan organisasi yaitu:
(1) Lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar karena bayaknya sumbangan
pikiran.
pikiran.
8
(2) Pengembangan potensi diri dan kreativitas.
(3) Adanya penerimaan yang lebih besar terhadap perintah yang diberikan dan adanya
perasaan diperlukan.
perasaan diperlukan.
(4) Melatih untuk bertanggung jawab serta mendorong untuk membangun kepentingan
bersama.
bersama.
Dengan demikian jelaslah bahwa faktor partisipasi dalam kehidupan oragnisasi kerja seperti sekolah adalah penting karena berpengaruh positif bagi kepemimpinan guru dan kepala sekolah serta peningkatan program pendidikan.
c. Tingkatan Partisipasi
Menurut Pariata Westra tingkatan partisipasi dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1) Tingkatan pengertian timbal balik artinya mengarahkan anggota agar mengerti akan
fungsinya masing – masing dan sikap yang seharusnya satu sama lain.
fungsinya masing – masing dan sikap yang seharusnya satu sama lain.
2) Tingkatan pemberian nasihat artinya individu – individu di sini saling membantu untuk
pembuatan keputusan terhadap persoalan – persoalan yang sedang dihadapi sehingga
saling tukar menukar ide – ide mereka satu per satu.
pembuatan keputusan terhadap persoalan – persoalan yang sedang dihadapi sehingga
saling tukar menukar ide – ide mereka satu per satu.
3) Tingkatan kewenangan artinya menempatkan posisi anggotanya pada keadaan mereka,
sehingga dapat mengambil keputusan pada persoalan yang mereka hadapi.
sehingga dapat mengambil keputusan pada persoalan yang mereka hadapi.
Pendapat lain dikemukakan oleh Jumrowi yang dikutip oleh Subandiyah bahwa dilihat dari segi tingkatannya partisipasi dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
1) Partisipasi dalam proses perencanaan dan kaitannya dengan program lain.
2) Partisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
3) Partisipasi dalam pelaksanaan.
Lebih jauh Tuthans seperti yang dikutip oleh Wuradji mengemukakan bahwa partisipasi dibagi menjadi dua tingkatan yaitu:
(a) Partisipasi secara penuh dan
(b) Partisipasi sebagian.
(1985: 103)
Partsipasi secara penuh hanya mungkin terjadi apabila terdapat iklim yang memungkinkan ke arah itu, walaupun dari pihak pengikut telah ada kesadaran untuk mengembangkan pikiran maupun psikisnya, namun tidak mungkin tersebut terwujud, tanpa tersedianya peluang untuk itu.
Dengan menyimak beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mengukur partisipasi siswa dapat dilihat dari seberapa jauh keterlibatannya dalam organisasi di mana mereka menjadi anggotanya. Partisipasi tersebut akan terwujud apabila organisasi memberikan peluang bagi anggotanya untuk berpartisipasi. Peluang untuk berpartisipasi tersebut luas di dalam organisasi yang bersifat demokratis baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam praktek pelaksanaan dan evaluasi hasil pelaksanaan keputusan. Dengan demikian kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu organisasi yang memungkinkan bagi anggotanya untuk berpartisipasi penuh.
d. Hal – hal yang Mempengaruhi Tumbuhnya Partisipasi Siswa dalam Kegiatan
Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler
Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuhnya partisipasi anggota suatu kelompok atau organisasi. Dikemukakan Noeng Moehajir, bahwa tumbuhnya partisipasi dapat dilihat dari derajat partisipasinya yaitu:
1. Partisipasi tanpa mengenal objek partisipasi yang berpartisipasi karena diperintahkan
untuk ikut.
untuk ikut.
9
2. Berpartisipasi karena yang bersangkutan telah mengenal ide baru tersebut, ada daya tarik
dari objek dan ada minat dari subjek.
dari objek dan ada minat dari subjek.
3. Berpartisipasi karena yang bersangkutan telah meyakini bahwa ide tersebut memang baik.
4. Berpartisipasi karena yang bersangkutan telah melihat lebih detail tentang alternatif
pelaksanaan dan penerapan ide. Tersebut.
pelaksanaan dan penerapan ide. Tersebut.
5. Berpartisipasi karena yang bersangkutan langsung memanfaatkan ide dan usaha
pembangunan tersebut untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat (1980: 135).
pembangunan tersebut untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat (1980: 135).
Sedang Amital Atzioni yang dikutip oleh Sri Edi mengemukakan sebagai berikut:
Peran serta, dengan kata lain adalah orientasi penilaian kolektif daripada anggota
sebagai suatu unsur mutlak organisasi dalam mencapai tujuannya. Seorang anggota
organisasi akan berperan serta dalam suatu organisasi tergantung pada penilaian
kolektifnya pada situasi dan segala apa pertimbangannya dari kegiatan organisasi itu.
Demikian pula peran serta anggota akan menilai pertimbangan yang menarik
partisipasi anggota. (1985: 312).
sebagai suatu unsur mutlak organisasi dalam mencapai tujuannya. Seorang anggota
organisasi akan berperan serta dalam suatu organisasi tergantung pada penilaian
kolektifnya pada situasi dan segala apa pertimbangannya dari kegiatan organisasi itu.
Demikian pula peran serta anggota akan menilai pertimbangan yang menarik
partisipasi anggota. (1985: 312).
Dari dua pendapat tersebut di atas, maka disimpulkan bahwa partisipasi dalam suatu organisasi dipengaruhi oleh:
(1) Adanya daya tarik dari objek yang bersangkutan.
(2) Karena diperintahkan untuk berpartisipasi.
(3) Adanya manfaat bagi dirinya.
Dengan demikian kegiatan ekstrakurikuler sebagai organisasi siswa di sekolah agar dapat melibatkan semua siswa di sekolah, harus menyelenggarakan jenis kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan memiliki kemanfaatan bagi dirinya sebagai sarana pendewasaan diri dan penyaluran bakat – bakat potensi mereka, di samping kepala sekolah harus memerintahkan siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah yang bertujuan mengembangkan program kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
e. Bentuk Partisipasi Siswa dalam Kegiata Ekstrakurikuler
Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan pengayaan siswa yang bersifat kognitif, efektif dan psikomotor serta mendorong penyaluran bakat dan minat siswa, hal ini merupakan tujuan dari pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah, dengan demikian maka tujuan di atas sesuai dengan yang diungkap oleh Bambang PR. bahwa tujuan organisasi tidak lain daripada tujuan – tujuan para anggotanya.(1990 : 21).
Partisipasi masing – masing siswa dalam suatu kegiatan ekstrakurikuler berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, baik dalam usaha maupun cara untuk mencapai yang diharapkan. Menurut Dusseldrop seperti yang dikutip oleh Subandiyah kegiatan ekstrakurikuler siswa pada intinya terdiri atas:
a. Mendatangi pertemuan
b. Melibatkan diri dalam diskusi.
c. Melibatkan diri dalam aspek organisasi dari proses partisipasi, misalnya: mengikuti
kegiatan yang dilaksanakan, menyelenggarakan pertemuan kelompok.
kegiatan yang dilaksanakan, menyelenggarakan pertemuan kelompok.
d. Mengambil bagian dalam proses keputusan dengan cara menyatakan pendapat atau
masalah, misalnya: tujuan yang harus dicapai oleh kelompok, cara mencapai tujuan,
mengalokasikan sumber yang langka, pemilihan perorangan yang mewakili kelompok,
penilaian efektivitas – efisiensi dan relevansi kegiatan.
masalah, misalnya: tujuan yang harus dicapai oleh kelompok, cara mencapai tujuan,
mengalokasikan sumber yang langka, pemilihan perorangan yang mewakili kelompok,
penilaian efektivitas – efisiensi dan relevansi kegiatan.
10
e. Ikut serta memanfaatkan hasil, program misalnya: ikut serta dalam latihan program atau
dengan ikut serta dalam memanfaatkan keuntungan.
dengan ikut serta dalam memanfaatkan keuntungan.
(Subandiyah, 1990).
Untuk mengukur partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat dilihat dari seberapa jauh keterlibatannya dalam organisasi. Bambang P. Raharja mengutip pendapat Georgeopolus dan Tanenpasi yang mengemukakan suatu daftar perincian untuk mengukur partisipasi yaitu:
Participation conceptually ..., have six questionare items as a measure of this variabel:
a. Regular meeting attendence.
b. Special meeting attendence.
c. Holding union committe.
d. Voting during at last union selection.
(1986: 44).
Muchlis Yahya mengemukakan bahwa untuk mengukur partisipasi anggota antara lain (1985: 311):
a. Kerajinan dan ketetapan membayar simpanan.
b. Seringnya menghadiri latihan.
c. Seringnya menghadiri rapat.
d. Motivasi anggota.
Sedangkan Jumrowi mengemukakan bahwa bentuk partisipasi dalam suatu kegiatan ekstrakurikuler meliputi:
a. Partisipasi dalam memberikan buah pikir.
b. Partisipasi tenaga.
c. Partisipasi harga benda.
d. Partisipasi keterampilan yang diberikan.
e. Partisipasi sosial yang diberikan sebagai kedekatan hati.
(Subandiyah, 1990: 14).
Dari laporan lapangan majalah Prisma No. 6 Tahun X Juni 1981 dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur partisipasi ditentukan oleh beberapa hal sebagai berikut ini:
a. Kritik, usul, saran dan pendapat dari anggota yang terbuka.
b. Ketetapan melaksanakan tugas dan kewajiban.
c. Kehadiran dalam rapat.
d. Kesediaan anggota untuk berkorban.
e. Pemanfaatan jasa untuk diberikan.
Dari uraian tentang mengukur partisipasi anggota dalam organisasi di atas muka dapatlah disimpulkan untuk mengukur partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler ditentukan oleh:
a. Tingkat kehadiran dalam pertemuan.
b. Jabatan yang dipegang.
c. Pemberian saran, usulan, kritik dan pendapat bagi peningkatan organisasi.
d. Kesediaan anggota untuk berkorban.
e. Motivasi anggota.
C. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler
Pelaksanakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah akan memberikan banyak manfaat tidak hanya terhadap siswa tetapi juga bagi efektifitas penyelenggaraan pendidikan disekolah. Seperti yang dikemukakan oleh Percy E. Burrep bahwa sumbangan kegiatan ekstrakurikuler bagi sekolah adalah:
11
a. To foster more effective teamwork betwen student faculty and personel.
b. To integrate more closely the several division of the school.
c. To provide less restricted opportunities designed to assist youth in the worth-while
utilization of their problematic situation with which they are confronted.(1962: 124)
utilization of their problematic situation with which they are confronted.(1962: 124)
Begitu banyak fungsi dan makna kegiatan ekstrakurikuler dalam menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Hal ini akan terwujud, manakala pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan sebaik – baiknya khususnya pengaturan siswa, peningkatan disiplin siswa semua petugas. Biasanya mengatur siswa di luar jam – jam pelajaran lebih sulit dari mengatur mereka di dalam kelas. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler melibatkan banyak pihak, memerlukan peningkatan administrasi yang lebih tinggi.
Keterlibatan ini dimaksudkan untuk memberikan pengarahan dan pembinaan juga menjaga agar kegiatan tersebut tidak mengganggu atau merugikan aktivitas akademis. Yang dimaksud dengan pembina ekstrakurikuler adalah guru atau petugas khusus yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk membina kegiatan ekstrakurikuler.
Untuk jenis – jenis kegiatan ekstrakurikuler yang masih ada kaitannya dengan pelajaran antara lain olahraga prestasi, musik, menari, dan sebagainya, biasanya sekolah memanfaatkan guru – guru bidang studi yang sudah ada, di mana pengalaman, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki tersebut diperoleh dari jenjang pendidikan formal. Untuk jenis kegiatan ekstrakurikuler seperti PMR, pramuka, fotografi, sekolah juga memanfaatkan guru yang ada. Jika pembina dirasa masih kurang maka sekolah akan menunjuk petugas dari luar untuk membina kegiatan – kegiatan tersebut.
Adapun tugas – tugas seseorang pembina kegiatan ekstrakurikuler oleh Made Pidate dalam bukunya Supervisi Pendidikan dikatakan sebagai berikut:
a. Tugas mengajar
1. Merencanakan aktivitas
2. Membimbing aktivitas
3. Mengevaluasi
b. Ketatausahaan
1. Mengadakan presensi.
2. Menerima dan mengatur keuangan.
3. Mengumpulkan nilai.
4. Memberikan tanda penghargaan.
c. Tugas – tugas umum
Mengadakan pertandingan, pertunjukan, perlombaan dan lain – lain.
Sebelum guru ekstrakurikuler membina kegiatan ekstrakurikuler terlebih dahulu merencanakan aktivitas yang akan dilaksanakan. Penyusunan rancangan aktivitas ini dimaksudkan agar guru mempunyai pedoman yang jelas dalam melatih kegiatan ekstrakurikuler. Rancangan ini dibuat tiap semester. Selain bermanfaat bagi guru juga diperlukan oleh kepala sekolah untuk mempermudah dalam mengadakan supervisi.
Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler dapat berbeda – beda antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Sehubungan dengan itu, Amir Daien (1988: 125) menjelaskan hal – hal yang perlu diketahui oleh pembina ekstrakurikuler:
1. Kegiatan harus dapat meningkatkan pengayaan siswa yang beraspek kognitif, afektif dan
psikomotor.
psikomotor.
2. Memberikan tempat serta penyaluran bakat dan minat sehingga siswa akan terbiasa
dengan kesibukan – kesibukan yang bermakna.
dengan kesibukan – kesibukan yang bermakna.
12
3. Adanya perencanaan dan persiapan serta pembinaan yang telah diperhitungkan masak –
masak sehingga program ekstrakurikuler mencapai tujuan.
masak sehingga program ekstrakurikuler mencapai tujuan.
4. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler oleh semua atau sebagian siswa.
Setelah program selesai, pembina perlu mengadakan evaluasi. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kemanfaatan program bagi siswa maupun bagi sekolah, hemat biaya atau tidak, dan sebagainya. Hasil evaluasi bermanfaat bagi pengambil keputusan untuk menentukan perlu tidaknya suatu program ekstrakurikuler dilanjutkan.
Selanjutnya tugas – tugas utama tersebut, pembina juga mempunyai tugas tambahan yaitu:
(1) Mengadakan pra – survei, maksudnya ialah apabila suatu kegiatan akan dilakukan di
luar lingkungan sekolah, pembina terlebih dahulu mengadakan pengamatan ke tempat
tersebut untuk mengetahui tepat tidaknya lokasi tersebut untuk mengetahui tepat
tidaknya lokasi tersebut dikunjungi dan dapat merencanakan segi keamanannya bagi
siswa.
luar lingkungan sekolah, pembina terlebih dahulu mengadakan pengamatan ke tempat
tersebut untuk mengetahui tepat tidaknya lokasi tersebut untuk mengetahui tepat
tidaknya lokasi tersebut dikunjungi dan dapat merencanakan segi keamanannya bagi
siswa.
(2) Mengadakan presensi untuk tiap kali latihan.
(3) Menerima uang khusus, misalnya uang tabungan, iuran pembelian buku, dan sebagainya.
(4) Memberikan penilaian terhadap prestasi siswa tiap semester yang kemudian dimasukkan
dalam nilai rapor.
dalam nilai rapor.
(5) Tugas umum yaitu mengantar ke tujuan apabila aktivitas dilakukan di luar lingkungan
sekolah, seperti pertandingan – pertandingan, pertunjukan – pertunjukan dan perjalanan.
sekolah, seperti pertandingan – pertandingan, pertunjukan – pertunjukan dan perjalanan.
D. Tersedianya Sarana
Proses belajar mengajar di sekolah akan berjalan dengan lancar jika ditunjang dengan sarana yang memadai, baik jumlah, keadaan, maupun kelengkapannya. Jumlah yang dimaksud adalah keberadaan dan banyak sedikitnya sarana yang dimiliki.
Yang dimaksud dengan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar teratur, efektif dan efisien. (Depdikbud, 1988)
Lebih luas fasilitas dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan suatu usaha dapat berupa benda – benda maupun uang.
Jadi dalam hal ini fasilitas disamakan dengan sarana. Fasilitas atau sarana menurut Suharsimi AK, dibedakan menjadi dua jenis:
1. Fasilitas fisik yaitu segala sesuatu yang berupa benda atau yang dapat dibendakan yang
mempunyai peranan untuk memudahkan atau melancarkan suatu usaha.
mempunyai peranan untuk memudahkan atau melancarkan suatu usaha.
2. Fasilitas uang yaitu segala sesuatu yang bersifat mempermudah suatu kegiatan sebagai
akibat bekerjanya nilai uang.
akibat bekerjanya nilai uang.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sarana adalah fasilitas pisik yang digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Seperti halnya pengajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler akan dapat berjalan lancar jika ditunjang dengan tersedianya sarana ekstrakurikuler yang memadai.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, tersedia artinya sudah ada atau disediakan. (Depdikbud, 1988: 792). Jadi yang dimaksud dengan tersedianya sarana ekstrakurikuler adalah ada tidaknya sarana yang dapat disediakan oleh sekolah guna memberi kemudahan kepada peserta dalam mengikuti kegatan ekstrakurikuler.
13
E. Tersedianya Dana
Sekolah sebagai organisasi kerja memerlukan sejumlah dana agar dapat mewujudkan kegiatan – kegiatan yang memungkinkan dalam mencapai tujuan organisasi. Dana merupakan salah satu sarana yang menentukan, tanpa didukung atau ditunjang oleh dana yang memadai pekerjaan tidak akan lancar, bahkan mungkin mengalami kemacetan.
Tersedianya dana ekstrakurikuler diartikan sebagai besarnya dana yang disediakan oleh sekolah guna memberi kemudahan kepada peserta dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Penyediaan anggaran atau dana untuk kegiatan ekstrakurikuler dapat diperoleh dari berbagai sumber. Menurut Suharsimi Arikunto (1985: 2) sumber pembiyaan pendidikan berasal dari empat arah, yaitu:
a. Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah.
b. Orang tua murid (SPP dan BP3).
c. Masyarakat.
d. Dana bantuan atau pinjaman pemerintah dari luar negeri.
Semua dana itu harus dipergunakan secara terarah dan bertanggung jawab dengan tidak bertumpang tindih satu dengan yang lain. Pimpinan harus mampu menjalankan kebijakan agar semua dana itu dapat dimanfaatkan secara efisien, dalam arti saling menunjang atau saling mengisi sehingga semua kegiatan baik ekstrakurikuler maupun kegiatan lainnya dapat dilaksankan dengan sekecil mungkin hambatannya.
Dalam hal pembiyaan kegiatan ekstrakurikuler, dijelaskan bahwa sebagianpembiyaan dibebankan kepada orang tua siswa sesuai dengan kemampuannya. (Depdikbud, 1987: 10).
F. Keberadaan Jadwal Kegiatan Ekstrakurikuler
Penjadwalan merupakan salah satu kegiatan administrasi sekolah. Jadwal ini dimaksudkan untuk mengatur program belajar, praktek, program lapangan dapat terselenggara secara tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia dengan segala keterbatasannya.
Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan pada waktu dimana para siswa mendapatkan waktu terluang, pada sore hari bagi sekolah yang belajar di pagi hari dan pagi hari bagi sekolah yang masuk sore hari, ataupun pada waktu – waktu liburan.
Jadwal ekstrakurikuler akan menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan tugas pembina, bagi siswa menjadi pedoman dalam merencanakan dan mengikuti program ekstrakurikuler, bagi administrator mempermudah dalam memberikan dukungan sarana prasarana yang diperlukan dan bagi kepala sekolah mempermudah dalam mengadakan supervisi.
Oleh karena jadwal sangat penting artinya, maka pengumuman jadwal harus mudah diketahui oleh mereka. Pengumuman jadwal ekstrakurikuler sebaiknya tertempel sedemikian rupa pada papan pengumuman sehingga mudah diketahui oleh para personel sekolah.
14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kegiatan ekstrakurikuler sangat penting dalam pendidikan nilai karena dalam kegiatan tersebut siswa mendapatkan pengalaman – langsung, terlibat secara aktif dalam kegiatan tersebut dan menyediakan cukup waktu diluar jam efektif pelajaran, sehingga pendidikan nilai lebih terakomodasi melalui aktivitas kegiatan ekstrakurikuler. Pengembangan profil kepribadian yang matang atah kaffah peserta didik merupakan inti dari pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. Muatan dalam kegiatan ekstrakurikuler meliputi :
a. peningkatan kesadaran moral beragama,
b. Pelatihan profesional yang ditujukan pada pengembangan kemampuan nilai tertentu,
c. pembiasaan hidup berorganisasi,
d. penyadaran nilai kehidupan manusia, alam, bahkan Tuhan
e. penyadaran peserta didik terhadap nilai – nilai budaya
f. penyingkapan nilai – nilai yang berkembang di masyarakat.
B. Saran
Mahasiswa yang terlibat dalam organisasi ekstrakulikuler bisa menambah pengalaman berorganisasi dan ilmiu pengetahuan khususnya dalam perkuliahan.
Mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan organisasi ekstrakulikuler sebagai bahan belajar mencari pengalaman berorganisasi dan ilmu yang bisa diterapkan pada perkuliahan.
Tujuan dari ini peserta didik diharapkan megatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini dilakukan agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
Mahasiswa diharapkan lebih aktif dalam organisasi ekstrakulikuler karena telah tersedia berbagai macam ekstrakulikuler beserta tingkatannya yang disesuaikan dengtan minat dan bakat mahasiswa.
15
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Gafur, 1989. Disain Instruksional, Surakarta: Tiga Serangkai.
Abu Ahmadi, 1990. Pedoman Penyelenggaran Administrasi Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta.
Aip Syarifuddin, 1985. Pedoman Pelaksanaan Ekstrakurikuler Jakarta: Depdikbud.
Ali Husein dan Syarifuddin, 1986. Perencanaan dan Penyusunan Program Pengajaran,
Jakarta.
Jakarta.
Ametembun, 1981. Supervisi Pendidikan, Bandung.
David Jacobson, 1981. Methods for Teaching a Skill Approach, London.
Depdikbud, 1985. Buku Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar, Kurikulum SMTA
1984, Jakarta, Dikmenum.
1984, Jakarta, Dikmenum.
__________, 1989 Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta.
__________, 1984 Paket Bimbingan Karier, Jakarta, BP3K.
__________, 1981. Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta, Proyek Pengembangan Institusi
Pendidikan Tinggi.
Internet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar